Teheran – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei menegaskan bahwa rakyat Iran tidak akan pernah tunduk pada tekanan Amerika Serikat. INITOGEL Menurutnya, permintaan agar Teheran patuh kepada Washington D.C merupakan “penghinaan besar” yang akan ditolak oleh bangsa Iran.
“Mereka ingin Iran patuh kepada AS. Bangsa Iran akan melawan dengan sekuat tenaga siapa pun yang masih memiliki harapan keliru seperti itu,” ujar Khamenei dikutip dari laman Al Jazeera, Senin (25/8/2025).
Ia juga menyinggung pihak-pihak yang mendesak Iran untuk melepas slogan anti-Amerika dan membuka jalur perundingan langsung dengan Washington D.C. Menurut Khamenei, pendekatan seperti itu hanya melihat permukaan masalah.
“Masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan cara demikian,” tegasnya.
Pernyataan Khamenei datang di tengah kebuntuan panjang soal program nuklir Iran. Pada Jumat (22/8), Teheran dan negara-negara Eropa sepakat melanjutkan pembicaraan guna membuka kembali negosiasi penuh terkait pembatasan pengayaan uranium.
Prancis, Inggris, dan Jerman bahkan mengancam akan mengaktifkan kembali sanksi PBB melalui mekanisme snapback bila Iran tidak kembali ke meja perundingan. Pertemuan lanjutan dijadwalkan berlangsung Selasa mendatang.
Ketegangan semakin memuncak setelah Iran menangguhkan dialog dengan AS menyusul serangan udara Washington dan Israel terhadap situs nuklirnya pada konflik 12 hari di bulan Juni.
Khamenei Tuding AS Tebarkan Perpecahan dalam Negeri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1793647/original/066281700_1512628816-20171207-Yerusalem-AFP-AP3.jpg)
Pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei saat menghadiri pertemuan dengan pejabat Iran di Teheran, Iran (6/12). Khamenei mengutuk langkah Presiden Donald Trump yang memindahkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. (Kantor Pemimpin Tertinggi Iran melalui AP)
Khamenei menuding “agen Amerika dan rezim Zionis” berusaha menebar perpecahan di dalam negeri. “Jalan ke depan bagi musuh adalah menciptakan perpecahan,” ujarnya, sembari menyerukan persatuan nasional menghadapi tekanan eksternal.
AS dan sekutunya menuduh Iran tengah mengembangkan senjata nuklir. Namun Teheran bersikukuh program nuklirnya murni untuk kepentingan sipil.
Pada 2015, Iran menandatangani kesepakatan nuklir penting dengan AS dan negara-negara Eropa: Teheran bersedia memangkas ambisi nuklirnya sebagai imbalan keringanan sanksi.
Namun tiga tahun kemudian, Presiden AS Donald Trump menarik diri dari kesepakatan itu dan kembali memberlakukan sanksi keras lewat kebijakan “tekanan maksimum”.
Israel sebagai sekutu dekat AS di kawasan juga menentang perjanjian tersebut.
Perang singkat pada Juni 2025 kembali menunda kelanjutan negosiasi yang sebelumnya sudah memasuki putaran keenam. Hubungan diplomatik Teheran–Washington sendiri terputus sejak Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi, sekutu utama Barat.
Sumber : Kompast88.id